Hamil Duluan, Faktor Tingginya Permintaan Dispensasi Nikah di Kabupaten Cilacap


CILACAP - Permohonan dispensasi nikah di Kabupaten Cilacap selama dua bulan terakhir ini cukup tinggi.

Total ada sekira 145 pengajuan yang diterima Pengadilan Agama Cilacap dalam periode Januari-Februari 2020 ini.

Secara rinci, terdapat 92 pasangan yang mengajukan dispensasi nikah pada Januari 2020.

Sedangkan pada Februari ada 53 pasangan.

Panitera Muda Pengadilan Agama Cilacap Miftakhul Hilal mengatakan, rata-rata pasangan yang meminta dispensasi nikah karena hubungannya sudah mengkhawatirkan.

"Pasangan perempuan sudah dalam keadaan hamil," katanya saat ditemui Tribunbanyumas.com, Selasa (3/3/2020).

Hilal menambahkan, peningkatan permintaan dispensasi nikah juga dipengaruhi pemberlakuan UU Nomor 16 Tahun 2019.

Dimana di dalamnya mengatur batas usia menikah bagi laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun.

Sejak undang-undang itu diberlakukan tahun lalu, banyak pasangan yang meminta dispensasi nikah.

Terutama pasangan yang hamil duluan.

Hilal menerangkan, pasangan yang berumur di bawah ketentuan undang-undang bisa melaksanakan pernikahan dengan meminta dispensasi nikah.

Permintaan itu atas pertimbangan hamil duluan atau faktor darurat lainnya.

Terpisah, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KB PP dan PA) Kabupaten Cilacap, Murniyah mengatakan, ada dua atau tiga faktor yang mendukung tingginya pernikahan di bawah umur.

Pertama karena faktor ekonomi.

Di Kabupaten Cilacap masih banyak orangtua yang menikahkan anaknya yang baru lulus SMP karena alasan ekonomi.

Orangtua berpandangan menikahkan anaknya bisa mengurangi beban atau malah dianggap meringankan beban ekonomi.

Kedua, faktor pergaulan.

Banyak remaja yang melakukan pergaulan bebas sehingga sering terjadi hamil duluan.

Sedangkan yang ketiga adalah faktor budaya.

Di beberapa tempat di Cilacap, anak yang menikah melewati usia 18 tahun dianggap tidak laku.

Maka dari itu, banyak orangtua yang menikahkan anaknya karena faktor dorongan budaya agar dianggap anaknya laku.

"Dari ketiga faktor itu, faktor hamil duluan memang paling banyak," ujar Murniyah.

Menurut Murniyah, pasangan yang hamil duluan adalah korban dari dampak buruk penggunaan gawai (gadget).

Orangtua tidak tahu gawai yang digunakan itu bisa menjerumuskan anaknya ke pergaulan bebas.

"Rata-rata pasangan hamil duluan yang kami temui, awal mula kenalan dengan pasangannya di media sosial."

"Dari situ bisa berlanjut ke hal-hal yang merugikan lainnya," tambahnya.

Pihaknya, kata Munirah, juga melakukan pendampingan kepada anak yang hamil di luar nikah yang berstatus pelajar.

"Sebisa mungkin jangan dikeluarkan dari sekolah. Apalagi siswa yang sudah menginjak kelas XII."

"Itu kan tinggal sedikit lulus, sayang kalau dikeluarkan," ungkap Murniyah.

Sebagai langkah antisipasi, kata Murniyah, di Cilacap disosialisasikan program Rindu Keluarga.

Isi program itu adalah setiap keluarga pada pukul 18.00 hingga pukul 21.00, anggota keluarga meninggalkan gawai masing-masing.

Tujuannya agar bisa saling berkumpul dan bercengkerama dengan angota keluarga.

Selain itu juga, Dinas KBPP dan PA Kabupaten Cilacap gencar sosialisasi ke sekolah tentang bahaya penggunaan gawai.

" Masih anak yang terpapar dampak buruk gawai daripada manfaatnya," pungkas Murniyah. (Muhammad Yunan Setiawan)



Artikel ini telah tayang di Tribunbanyumas.com dengan judul Hamil Duluan, Faktor Tingginya Permintaan Dispensasi Nikah di Cilacap, https://banyumas.tribunnews.com/2020/03/03/hamil-duluan-faktor-tingginya-permintaan-dispensasi-nikah-di-cilacap?page=all.
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: deni setiawan

0 Response to "Hamil Duluan, Faktor Tingginya Permintaan Dispensasi Nikah di Kabupaten Cilacap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel